IOC Hukum Indonesia Usai Tolak Atlet Israel, Bukti Kemunafikan dan Standar Ganda Dunia Olahraga

favicon progres.id
landmark logo olimpiade
Landmark logo Olimpiade (Istimewa)

PROGRES.ID, Jakarta – Keputusan Komite Olimpiade Internasional (IOC) menjatuhkan sanksi terhadap Indonesia menuai kritik tajam dari jurnalis independen asal India, Rifad Jawaid, lewat kanal YouTube-nya Janta Ka Reporter. Menurutnya, tindakan cepat IOC setelah Indonesia menolak visa atlet Israel untuk mengikuti World Artistic Gymnastics Championships adalah bukti nyata kemunafikan dan standar ganda organisasi tersebut.

IOC Bergerak Cepat, Indonesia Langsung Diblokir

Rifad menilai langkah IOC kali ini menunjukkan betapa “memalukan”nya organisasi yang selama ini mengklaim mengusung semangat persatuan lewat olahraga. “IOC bertindak seolah-olah mereka adalah pelindung sekelompok teroris yang sudah membunuh ratusan ribu orang,” ujarnya dalam video tersebut.

IOC dikabarkan langsung menggelar rapat darurat dan memutuskan untuk melarang Indonesia menjadi tuan rumah event olahraga apa pun di bawah naungan Olimpiade, termasuk Olimpiade Remaja dan konferensi olahraga internasional. Keputusan itu diambil bahkan sebelum kejuaraan senam dunia di Indonesia selesai digelar.

Dalam pernyataan resminya, IOC menegaskan akan “mengakhiri semua bentuk dialog” dengan Komite Olimpiade Indonesia (KOI) hingga pemerintah Indonesia memberikan jaminan resmi bahwa mereka akan membuka akses bagi seluruh peserta “tanpa memandang kewarganegaraan.”

Selain itu, IOC juga merekomendasikan semua federasi olahraga internasional agar menunda penyelenggaraan event di Indonesia sampai pemerintah memberikan jaminan yang sama.

Indonesia Tegas: Demi Keamanan dan Prinsip Negara

Menanggapi keputusan keras IOC, Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir menyampaikan pernyataan resmi. Ia menegaskan bahwa langkah Indonesia menolak kedatangan delegasi Israel diambil demi keamanan nasional, ketertiban umum, dan kepentingan publik, sesuai amanat UUD 1945.

“Kami menjunjung prinsip untuk menjaga keamanan dan ketertiban umum dalam setiap penyelenggaraan acara internasional,” tulis Erick. “Langkah ini juga sejalan dengan kewajiban pemerintah Indonesia untuk menegakkan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.”

Erick mengakui bahwa keputusan tersebut memiliki konsekuensi besar, termasuk risiko Indonesia kehilangan kesempatan menjadi tuan rumah berbagai ajang olahraga internasional, bahkan peluang untuk mengajukan diri sebagai tuan rumah Olimpiade 2036.

Rifad: Ini Bukti Kekuatan Supremasi Israel

Menurut Rifad Jawaid, sikap IOC ini memperlihatkan betapa kuatnya pengaruh Israel dalam sistem olahraga internasional. “Inilah kekuatan supremasi Israel. Mereka bisa membunuh ribuan orang dan tetap dibela ketika hanya ditolak ikut kompetisi olahraga,” ujarnya tegas.

Ia juga menyinggung bagaimana IOC tampak berpihak dan tidak konsisten dalam mengambil tindakan terhadap negara yang melanggar nilai-nilai kemanusiaan.

Kritik Tajam: “IOC Sudah Kehilangan Kredibilitas”

Dalam video itu, Rifad mengingatkan publik bahwa IOC sebelumnya tidak segan menghukum negara lain karena alasan politik dan perang. Misalnya:

  • Turki dan Belgia pernah dilarang ikut Olimpiade 1920 karena peran mereka dalam Perang Dunia I.
  • Jepang dan Jerman dilarang usai Perang Dunia II.
  • Afrika Selatan diboikot selama lebih dari dua dekade karena apartheid.
  • Afghanistan pernah dilarang karena perlakuan terhadap perempuan.
  • Rusia hingga kini masih dibatasi karena invasi ke Ukraina.

“Namun ketika menyangkut Israel—negara yang mengebom warga sipil, perempuan, dan anak-anak di Gaza—IOC justru diam dan bahkan melindunginya. Mereka menutup mata terhadap genosida yang disiarkan langsung ke seluruh dunia,” ujar Rifad.

Ia menambahkan, tindakan IOC melawan Indonesia hanya karena visa atlet Israel ditolak menunjukkan kemunafikan paling terang-terangan dalam sejarah olahraga modern.

“Olimpiade Harusnya Simbol Persatuan, Bukan Kepatuhan Buta”

Menurut Rifad, IOC telah melenceng jauh dari semangat Olimpiade yang seharusnya menjadi simbol persatuan umat manusia. “Mereka mengubah moto Olimpiade pada 2021 untuk menekankan solidaritas, tetapi kini justru menunjukkan solidaritas terhadap pelaku penjajahan dan pembunuhan massal,” ujarnya.

Ia menutup videonya dengan pesan keras: “Inilah wajah asli IOC — organisasi yang korup secara moral dan telah kehilangan kredibilitas. Dunia olahraga kini dikendalikan oleh politik dan kekuasaan, bukan lagi oleh nilai kemanusiaan.”

Kesimpulan

Kritik Rifad Jawaid terhadap IOC menggambarkan kekecewaan besar terhadap lembaga yang selama ini dianggap netral dan menjunjung tinggi semangat sportivitas global. Kasus penolakan visa atlet Israel oleh Indonesia kini bukan sekadar persoalan olahraga, tetapi juga menjadi cermin bagaimana politik internasional, kekuasaan, dan moralitas global saling berhadapan di panggung dunia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *