Penggali Emas Pemberani: Kisah Tuntutan Ekonomi di Balik Lubang Rahasia Pancurendang, Banyumas

favicon progres.id
Detik.com

PROGRES.ID- Di Desa Pancurendang, Banyumas, para penambang liar sering kali terjebak di dalam lubang tambang, namun mereka mengakui bahwa risiko tersebut merupakan bagian dari pekerjaan mereka. Delapan orang pekerja tambang tradisional yang terjebak di dalam lubang tambang emas di Desa Pancurendang, Banyumas, Jawa Tengah, sejak Selasa (25/07/2023), masih belum bisa dievakuasi

Dilansir dari BBC.com, beberapa penambang bercerita soal kondisi ekonomi yang mereka alami. Agus, 40 tahun, menyatakan, “Jika masih ada tambang, saya tetap akan bekerja menambang.”

Penambang lain, Nino (40), mengalami momen berbahaya ketika mati lampu pada kedalaman 90 meter. Namun, dia mengatakan bahwa sebagai penambang, risiko semacam itu harus dihadapi. Meskipun begitu, dia bersyukur karena berhasil kembali ke permukaan, walaupun perlu waktu 30 meter naik dari dalam tambang.

“Tidak kapok, Pada saat itu, paniknya luar biasa. Namun, karena penambang, maka risiko semacam itu harus dihadapi. Waktu itu saya tidak sendiri, ada beberapa penambang lainnya. Untungnya masih bisa sampai luar lagi, meski naiknya harus memakan waktu sampai 30 meter,”kata Nino.

Nino juga menemukan kondisi tidak biasa di dalam tambang. Biasanya, air di dalam tanah hanya ada hingga 25 meter, tetapi situasi saat ini menunjukkan adanya sumber air dari tempat lain yang menyebabkan air masuk ke dalam tambang.

“Kalau situasi yang terjadi sekarang, sepertinya ada air dari tempat lain, sehingga menutup lubang atau jalan turun ke lokasi tambang,”kata Nino

Beberapa penambang dijuluki “Raja Tikus” karena bertugas menelusuri urat emas dan membuat lubang kecil dengan diameter maksimal satu meter. Orang-orang yang melakukan pekerjaan ini biasanya berasal dari Jawa Barat, karena penduduk setempat cenderung tidak berani melakukannya.

“Mereka masuk ke lubang-lubang kecil itu untuk menelusuri urat emas. Baru nanti di belakangnya ada tim yang menggali. Tetapi, “Raja Tikus” itu biasanya orang-orang Jawa Barat. Kalau orang sini tidak berani,” jelasnya.

Meskipun pekerjaan ini berisiko tinggi, Nino mengungkapkan bahwa kondisi di dalam tambang sebenarnya cukup nyaman karena ada blower yang mengikuti mereka selama pekerjaan. Bahkan, di dalam lubang, dia bisa merokok, minum kopi, dan tidur-tiduran.

“Bahkan di dalam, saya bisa merokok dan minum kopi. Tidak hanya itu, saya bisa tidur-tiduran. Lubangnya ketinggian 90 cm dan lebar sekitar 70 cm,”katanya.

“Kalau sudah di dalam itu pikirannya hanya “dapat” dan “selamat”. Dapat emas, tetapi juga bisa pulang dengan selamat,” ucap Nino

Namun, keadaan berbahaya terjadi di Desa Pancurendang, Banyumas, ketika delapan pekerja tambang liar terjebak di dalam lubang tambang emas di areal persawahan. Tim Basarnas Cilacap, Polresta Banyumas, dan BPBD Banyumas berusaha melakukan evakuasi dengan menyedot air di dalam tambang emas tersebut.

Ternyata, tambang emas di lokasi tersebut ilegal dan tidak memiliki izin resmi dari pemerintah. Kendati demikian, para penambang tetap menjalankan pekerjaan ini karena tuntutan ekonomi. Pendapatan yang mereka peroleh bisa mencapai Rp1 juta hingga Rp5 juta per pekan, tergantung pada hasil tambang yang didapat.

Pekerjaan sebagai penambang liar menjadi mata pencaharian utama bagi sebagian besar warga Desa Pancurendang, karena hasilnya jauh lebih menguntungkan dibandingkan bertani. Meski berisiko tinggi, mereka tetap berani mengejar emas dan bertahan di dalam lubang tambang demi memenuhi kebutuhan hidup mereka.

Kisah penambang liar ini menunjukkan bagaimana tuntutan ekonomi bisa mendorong seseorang untuk mengambil risiko yang besar demi mencari nafkah. Meskipun ilegal dan berbahaya, pekerjaan ini menjadi pilihan bagi mereka yang mencari penghasilan lebih baik di tengah keterbatasan dan ketergantungan pada hasil bumi.(**)

sumber, bbc.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *