PROGRES.ID – Pasar logam mulia kembali diguncang. Harga emas dunia anjlok tajam pada perdagangan Senin (2/2/2026) pagi waktu Asia, memperpanjang koreksi besar yang sebelumnya menjadi yang terdalam dalam lebih dari sepuluh tahun terakhir. Perak pun tak luput dari tekanan, setelah sempat mencatat reli spektakuler dalam beberapa bulan terakhir.
Mengacu pada data Bloomberg, harga emas di pasar spot sempat terperosok hingga 4 persen di awal sesi perdagangan. Sementara itu, harga perak melemah sekitar 4 persen, setelah pada sesi sebelumnya sempat runtuh hingga 12 persen, yang tercatat sebagai penurunan intraday terdalam sepanjang sejarah perdagangan perak.
Pada pukul 07.16 waktu Singapura, harga emas turun 3,2 persen ke level US$4.742,73 per ons. Di saat yang sama, harga perak jatuh lebih dalam, merosot 7,7 persen ke posisi US$78,64 per ons.
Reli Terlalu Jauh, Pasar Mulai Kehabisan Nafas
Menurut Robert Gottlieb, mantan trader logam mulia JPMorgan Chase & Co. yang kini berprofesi sebagai analis independen, tekanan di pasar logam mulia belum sepenuhnya mereda. Ia menilai koreksi saat ini masih berpotensi berlanjut.
“Pasar sudah terlalu sesak oleh posisi beli dan kini sedang mencari level penopang harga yang baru,” ujarnya.
Sepanjang 2025, emas dan perak sempat mencetak rekor harga yang mengejutkan banyak pelaku pasar berpengalaman. Tren penguatan bahkan semakin agresif pada Januari 2026, didorong kombinasi kekhawatiran geopolitik global, pelemahan sejumlah mata uang utama, serta ketidakpastian arah kebijakan Federal Reserve (The Fed).
Namun reli yang terlalu cepat dan tinggi tersebut justru menjadi bumerang ketika sentimen berbalik arah.
Efek Nominasi Ketua The Fed: Dolar Menguat, Emas Tertekan
Tekanan jual besar-besaran mulai terasa sejak Jumat (30/1/2026), setelah muncul kabar bahwa Presiden Amerika Serikat Donald Trump mencalonkan Kevin Warsh sebagai Ketua Federal Reserve.
Penunjukan ini langsung mengubah ekspektasi pasar. Kevin Warsh dikenal sebagai figur yang keras dalam memerangi inflasi, sehingga dipersepsikan akan mendorong kebijakan moneter yang lebih ketat. Sentimen tersebut memperkuat dolar AS dan memukul harga emas, yang secara alami bergerak berlawanan arah dengan mata uang AS.
Penguatan dolar membuat investor yang sebelumnya berharap pada pelemahan greenback mulai menutup posisi emas mereka.
Volatilitas Ekstrem dan Efek Domino di Pasar
Selain faktor politik dan kebijakan moneter, pasar logam mulia juga semakin rentan terhadap pergerakan harga ekstrem. Lonjakan harga yang disertai volatilitas tinggi mengguncang model manajemen risiko serta neraca keuangan banyak pelaku pasar.
Goldman Sachs Group Inc. dalam catatannya menyoroti lonjakan pembelian opsi beli (call option) yang mencetak rekor. Secara mekanis, aktivitas ini mendorong harga emas naik lebih jauh.
Namun, di sisi lain, para penjual opsi kemudian melakukan lindung nilai dengan membeli emas dalam jumlah besar untuk mengantisipasi kenaikan harga. Ketika arah pasar berbalik, tekanan jual pun datang secara bersamaan, mempercepat kejatuhan harga.
Kondisi ini menandai fase baru di pasar logam mulia—di mana reli panjang mulai diuji, dan investor dipaksa bersiap menghadapi volatilitas yang lebih brutal dari sebelumnya.












