PROGRES.ID – Harga saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) terus mengalami tekanan di Bursa Efek Indonesia (BEI). Pada penutupan perdagangan Selasa (15 Oktober 2025), saham BBCA terjun 75 poin atau 1,02% ke level Rp7.250 per saham, dibandingkan penutupan hari sebelumnya di Rp7.325.
Padahal, di awal tahun 2025, saham bank swasta terbesar di Indonesia ini masih bertengger di kisaran Rp9.300 hingga Rp9.900 per saham. Namun sejak awal April, harga mulai menurun ke level Rp7.750, sempat bangkit pada Mei hingga Rp9.700, lalu kembali melemah signifikan.
Posisi terbaru ini bahkan menjadi yang terendah sejak 15 Juli 2022, ketika saham BBCA berada di level Rp7.000 per lembar.
Investor Lama Masih Untung, Pemegang Baru Rugi Puluhan Persen
Berdasarkan data BEI, investor yang telah memegang saham BBCA selama lima tahun terakhir masih mencatat keuntungan sekitar 25,32%.
Namun, bagi mereka yang baru membeli di awal 2025, posisi saat ini berarti potensi kerugian hingga 31,78%.
Koreksi tajam ini membuat kapitalisasi pasar BBCA turun di bawah Rp1.000 triliun, mendekati titik terendahnya dalam tiga tahun terakhir. Meski begitu, sejumlah analis justru menilai penurunan ini bisa menjadi peluang emas untuk masuk kembali ke saham BBCA.
Analis: Valuasi Murah, BBCA Masih Punya Fundamental Kuat
Dalam risetnya, analis dari BRIDanareksa Sekuritas menyebutkan bahwa valuasi BBCA saat ini tergolong murah jika dibandingkan dengan kinerja fundamentalnya yang tetap solid.
“Di tengah likuiditas yang mulai membaik, kami mempertahankan peringkat Netral pada sektor perbankan, dengan BBCA sebagai pilihan utama jangka panjang karena kualitas asetnya yang kuat,”
tulis BRIDanareksa dalam riset yang dikutip dari Kontan, Rabu (15/10/2025).
Sementara itu, pelaku pasar juga mencermati pengaruh pelemahan rupiah serta potensi kenaikan suku bunga deposito valas yang bisa menekan margin perbankan. Isu likuiditas dan kualitas aset pun menjadi faktor penting yang terus dipantau.
Suku Bunga Turun, Momentum Rebound Bisa Muncul
Dari sisi kebijakan moneter, Samuel Sekuritas menilai penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) sebesar 50 basis poin (bps) dalam sebulan terakhir dapat menjadi katalis positif jangka pendek dan menengah bagi saham-saham perbankan.
“Kebijakan ini bisa mendorong pertumbuhan kredit, terutama di segmen korporasi dan UMKM, karena bunga pinjaman yang lebih rendah akan meningkatkan permintaan refinancing,” tulis laporan riset Samuel Sekuritas.
Namun, analis tetap mengingatkan bahwa tantangan struktural seperti lemahnya permintaan kredit dan potensi kenaikan provisi belum sepenuhnya teratasi.
BBCA Masih Jadi Pilihan Favorit Investor Jangka Panjang
Meski menghadapi tekanan harga, BBCA masih dinilai sebagai bank dengan fundamental paling kuat di Indonesia.
Analis Samuel Sekuritas, Prasetya Gunadi, menjelaskan bahwa BBCA unggul dalam efisiensi biaya dan profitabilitas.
“BBCA memiliki biaya modal (CoC) terendah, yakni 0,5% dibanding rata-rata sektor 1,6%, jaringan CASA terbesar, dan tingkat ROE tertinggi mencapai 25,2% (rata-rata sektor: 18,4%),” ungkap Prasetya.
Dengan valuasi yang kini turun jauh di bawah rata-rata historisnya, BBCA dinilai undervalued dan berpotensi mengalami rebound signifikan jika kondisi makroekonomi membaik.
“Kami tetap optimistis terhadap kinerja BBCA, apalagi dengan valuasi yang sudah terlalu murah untuk diabaikan,” tambah Prasetya.
Kesimpulan: Waktu yang Tepat untuk Masuk BBCA?
Bagi investor jangka panjang (Lebih dari 5 tahun), saham BBCA masih menjadi pilihan aman dan prospektif, mengingat posisinya sebagai bank dengan kinerja paling efisien dan solid di Indonesia.
Sementara untuk trader jangka pendek, volatilitas harga saat ini dapat menjadi peluang spekulatif jika dikombinasikan dengan analisis teknikal yang tepat.












