PROGRES.ID– Mulai Kamis, 14 Agustus 2025, film horor terbaru “Panggilan dari Kubur” resmi menghantui layar lebar di seluruh bioskop Indonesia.
Mengusung durasi 88 menit dengan klasifikasi R13+*, karya ini diproduksi oleh Dunia Mencekam Studios bekerja sama dengan Maxima Pictures, dengan Arvin Sutedja dan Yoen K sebagai produser.
Kursi sutradara diisi oleh Dyan Sunu Prastowo, sementara naskah ditulis oleh Baskoro Adi.
Film ini dibintangi oleh Nirina Zubir, Nugie, Muthia Datau, Septian Dwi Cahyo, dan Firzanah Alya yang berperan menghidupkan kisah horor penuh emosi ini.
Alur Cerita
Tidak ada luka yang lebih dalam bagi seorang ibu selain kehilangan anaknya. Itulah kenyataan pahit yang harus dihadapi Alya (Nirina Zubir) saat liburan bersama suaminya, Raka (Nugie), dan putri mereka Yasmin (Firzanah Alya) ke rumah sang ibu, Bu Dewi (Muthia Datau), di sebuah desa sunyi yang dikelilingi hutan dan danau.
Namun, kebahagiaan singkat itu berubah menjadi mimpi buruk ketika Yasmin tewas tenggelam di danau akibat kecelakaan.
Cuaca ekstrem dan kondisi perjalanan yang berbahaya membuat keluarga ini tak bisa membawa jasad Yasmin kembali ke Jakarta. Dengan berat hati, Alya setuju memakamkan anaknya di halaman belakang rumah ibunya.
Sepulang ke kota, Alya mencoba menjalani hidup seperti biasa, tapi rasa kehilangan yang menghantuinya semakin memburuk.
Ia mulai merasakan “panggilan” yang seolah berasal dari Yasmin—sebuah bisikan halus namun mengerikan yang memaksanya kembali ke desa. Saat tiba, Alya mendapati kenyataan mencengangkan: kuburan Yasmin kosong.
Warga setempat, termasuk Basri (Septian Dwi Cahyo), mengungkapkan rahasia kelam tanah pemakaman itu. Konon, siapa pun yang dikuburkan di sana akan bangkit kembali—bukan sebagai manusia, melainkan sebagai makhluk penuh amarah.
Yasmin kini berkeliaran, meneror kampung dengan wajah yang sudah tak lagi sama.
Di antara rasa cinta seorang ibu dan kengerian tak masuk akal, Alya harus memutuskan: apakah ia siap merelakan kepergian putrinya untuk selamanya, atau membiarkan sosok yang kembali itu terus hidup—meski tak lagi seperti dulu?










