PROGRES.ID – Iran memperingatkan Amerika Serikat dan pihak-pihak yang dianggap sebagai lawannya agar tidak melakukan tindakan militer yang dapat memicu eskalasi konflik. Penasihat senior Komandan Tertinggi Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Brigadir Jenderal Mohammad Reza Naqdi, menyatakan Teheran telah menyiapkan senjata rudal andalan untuk menyerang infrastruktur energi dan investasi milik pihak lawan di kawasan.

Pernyataan tersebut disampaikan Naqdi pada Minggu saat berpidato di hadapan ribuan peserta kampanye “Sacrifice for Iran” di Kota Sari, wilayah utara Iran.

“Kami telah menyiapkan bapak dari rudal-rudal kami. Jika musuh melakukan kesalahan sekecil apa pun, serangannya akan berakhir dengan kegagalan dan mereka tidak akan memiliki jalan keluar,” kata Naqdi, seperti dilaporkan Press TV.

Istilah “bapak dari rudal-rudal kami” menjadi respons retoris Iran terhadap ancaman Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang sebelumnya menyebut kemungkinan penggunaan bom GBU-43/B Massive Ordnance Air Blast (MOAB), yang dikenal dengan julukan “Mother of All Bombs”, terhadap infrastruktur energi dan fasilitas nuklir Iran.

Naqdi menegaskan, fasilitas strategis dan investasi energi milik pihak yang dianggap sebagai agresor di kawasan berada dalam jangkauan operasional Iran.

“Jika terjadi salah perhitungan, seluruh platform infrastruktur dan investasi energi milik para agresor di kawasan akan berada dalam jangkauan operasional, dan keamanannya akan langsung terancam,” ujarnya.

IRGC Klaim Kemampuan Rudal Jadi Faktor Pencegah

Naqdi menyatakan angkatan bersenjata Iran telah menunjukkan kemampuan rudal dan daya gentar militer dalam menghadapi ancaman dari Washington. Menurutnya, kemampuan tersebut memungkinkan Iran memberikan respons tegas apabila wilayahnya kembali menjadi sasaran agresi.

Meski demikian, ia menekankan bahwa kekuatan Iran tidak semata-mata bersumber dari persenjataan dan teknologi militer. Naqdi menyebut dukungan, kesiapan, serta ketahanan masyarakat Iran sebagai faktor penting yang menopang kemampuan negara itu menghadapi tekanan dari luar.

Ia juga mengklaim kesiapan nasional dan perlawanan rakyat telah menggagalkan upaya masuknya pasukan darat musuh serta memaksa kapal-kapal lawan menjauh hingga 1.000 kilometer di laut.

Pernyataan tersebut mencerminkan upaya Teheran menunjukkan bahwa kemampuan pertahanannya tidak hanya bergantung pada sistem persenjataan, tetapi juga pada mobilisasi masyarakat dan strategi menghadapi ancaman militer.

Naqdi Sebut Ancaman Trump sebagai Pengakuan Kekalahan

Dalam bagian lain pidatonya, Naqdi menanggapi pernyataan Trump yang menyebut kesabarannya terhadap Iran mulai habis dan mengancam akan mengambil tindakan yang lebih keras.

Menurut Naqdi, pernyataan tersebut merupakan pengakuan terbuka atas kegagalan Washington menghadapi rakyat Iran. Ia menilai ancaman baru dari Gedung Putih tidak sejalan dengan klaim Amerika Serikat yang menyatakan telah meraih kemenangan.

Naqdi berargumen bahwa pihak yang benar-benar telah menang tidak seharusnya menyatakan kehilangan kesabaran atau terus mengancam akan meningkatkan serangan.

Namun, penilaian tersebut merupakan pandangan pihak Iran dan tidak dengan sendirinya membuktikan kondisi militer atau hasil konflik secara keseluruhan.

Iran Klaim Menyita Sisa Bom Besar AS

Naqdi juga menyinggung penggunaan bom berdaya ledak besar dalam perang selama 12 hari yang disebutnya melibatkan Iran. Ia mengklaim bom seberat 14 ton telah dijatuhkan ke wilayah Iran, tetapi beberapa di antaranya gagal meledak dan kemudian disita oleh pasukan Iran.

Menurut Naqdi, Iran kini memiliki sampel senjata tersebut, sehingga dapat mempelajari persenjataan yang diproduksi oleh pihak yang menggunakannya.

Klaim itu disampaikan di tengah ancaman penggunaan MOAB, salah satu bom konvensional terbesar dalam persenjataan Amerika Serikat. Jika benar digunakan dalam konflik yang sedang berlangsung, langkah tersebut akan menandai peningkatan serius dalam intensitas serangan terhadap Iran.

Sementara itu, juru bicara IRGC Brigadir Jenderal Hossein Mohebi, dalam pesan yang disampaikan pada Sabtu, turut mengkritik ancaman penggunaan bom tersebut.

Mohebi menyatakan bahwa hanya “peradaban barbar” yang menggunakan istilah “ibu” untuk menyebut bom terberatnya.

Pernyataan para pejabat Iran tersebut memperlihatkan meningkatnya ketegangan retorika antara Teheran dan Washington. Ancaman terhadap infrastruktur energi berpotensi memperluas risiko konflik, terutama jika serangan balasan menyasar fasilitas strategis di negara-negara lain di kawasan.

Di tengah situasi tersebut, peringatan Naqdi menegaskan posisi Iran bahwa setiap serangan baru dapat dibalas dengan menargetkan kepentingan energi pihak lawan. Meski demikian, realisasi ancaman tersebut dan dampaknya terhadap perkembangan konflik masih bergantung pada langkah militer serta keputusan politik masing-masing pihak.