PROGRES.ID – Amerika Serikat dilaporkan telah menyetujui pencairan aset Iran yang selama ini dibekukan. Namun, langkah tersebut belum cukup meyakinkan Teheran, yang kini menuntut jaminan konkret atas komitmen Washington.
Sumber internal Iran menyebutkan kepada media Iran, TasnimNews bahwa kesepakatan awal itu merupakan hasil tekanan dan negosiasi intensif antara kedua pihak dalam pembicaraan yang berlangsung di Islamabad, Pakistan. Menurut sumber tersebut, Amerika Serikat bahkan telah membawa tim teknis keuangan guna membahas mekanisme pencairan aset agar dapat disepakati bersama.
Meski demikian, delegasi Iran tetap berhati-hati. Pengalaman masa lalu terkait janji yang tidak terealisasi membuat Teheran menolak menerima komitmen tanpa jaminan yang jelas dan terukur.
“Pihak Iran sedang mencari cara untuk memastikan keseriusan Amerika Serikat dalam menjalankan komitmen ini,” ujar sumber tersebut.
Negosiasi ini berlangsung di tengah upaya meredakan ketegangan pascakonflik militer besar antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel yang pecah sejak 28 Februari. Konflik tersebut dipicu oleh terbunuhnya pemimpin Revolusi Islam Iran, Ali Khamenei, serta sejumlah komandan militer dalam serangan yang kemudian dibalas oleh Teheran melalui operasi militer terhadap target-target Amerika dan Israel di kawasan.
Setelah lebih dari 40 hari eskalasi, mediasi Pakistan menghasilkan kesepakatan gencatan senjata selama dua pekan yang mulai berlaku pada 8 April. Kesepakatan ini membuka jalan bagi perundingan lanjutan di Islamabad.
Dalam pembicaraan tersebut, Iran mengajukan proposal 10 poin yang mencakup tuntutan penarikan pasukan AS dari kawasan, pencabutan sanksi ekonomi, serta pengakuan atas peran strategis Iran di Selat Hormuz.
Meski proses diplomasi terus berjalan, pemerintah Iran menegaskan bahwa mereka tetap memandang Amerika Serikat dengan penuh kecurigaan. Teheran menilai perundingan ini bukan akhir dari konflik, melainkan pergeseran arena dari konfrontasi militer ke jalur diplomasi.












