PROGRES.ID – Israel melancarkan serangan udara besar-besaran ke Lebanon yang disebut sebagai yang paling intens sejak awal konflik, meski sebelumnya telah diumumkan kesepakatan gencatan senjata antara Iran dan Amerika Serikat.
Laporan pada Rabu (8/4/2026) menyebutkan sedikitnya 100 serangan udara terjadi dalam waktu kurang dari 10 menit, dengan sasaran sejumlah wilayah di Lebanon. Media lokal melaporkan sedikitnya 88 orang tewas di Beirut saja.
Serangan tersebut disebut sebagai bombardir terberat sejak Israel memulai operasi militernya terhadap Lebanon pada awal Maret, bersamaan dengan eskalasi konflik yang melibatkan Iran.
Media Lebanon, termasuk Al-Mayadeen, melaporkan bahwa serangan menyasar kawasan permukiman padat penduduk, mulai dari ibu kota Beirut dan pinggiran selatannya hingga wilayah Saida, Nabatieh di selatan, serta Bekaa di bagian timur.
Sementara itu, laporan yang mengutip Palang Merah Lebanon menyebut jumlah korban tewas bisa mencapai sedikitnya 300 orang, dengan banyak korban luka.
Kantor berita Reuters, mengutip sumber keamanan, melaporkan setidaknya 12 orang tewas dalam satu serangan yang menghantam kawasan padat di Beirut.
Rumah sakit di berbagai wilayah dilaporkan kewalahan menangani korban dan mengeluarkan seruan darurat untuk donor darah. Sumber yang dekat dengan Hezbollah menyebut kelompok tersebut menjadi salah satu target utama serangan dalam beberapa pekan terakhir.
Serangan intensif ini terjadi hanya beberapa jam setelah Iran dan Amerika Serikat menyepakati gencatan senjata sementara selama sekitar dua pekan melalui mediasi Pakistan, yang juga mencakup penghentian serangan Israel di Lebanon.
Namun, Kepala Staf Militer Israel Eyal Zamir menyatakan bahwa operasi militer akan terus berlanjut dan pihaknya akan memanfaatkan setiap peluang yang ada.
Sejak konflik meningkat, serangan Israel di Lebanon dilaporkan telah menewaskan ratusan orang dan memaksa hampir satu juta warga mengungsi.
Di sisi lain, Hizbullah menyatakan akan tetap melanjutkan perlawanan dan mendukung Iran dalam menghadapi tekanan militer dari Amerika Serikat dan Israel.
Anggota parlemen Lebanon Hassan Fadlallah menilai serangan tersebut sebagai upaya Israel untuk menghindari implementasi gencatan senjata di front Lebanon, sekaligus menutupi kegagalan dalam konflik dengan Iran.
Ia menegaskan bahwa eskalasi militer di Lebanon tidak akan menghapus dampak kekalahan Israel di hadapan Iran maupun mundurnya pasukan Israel dari wilayah selatan Lebanon sebelum mencapai Sungai Litani.












