PROGRES.ID – Harapan dan keraguan berjalan beriringan ketika delegasi tingkat tinggi Iran dan Amerika Serikat bertemu di Islamabad, Pakistan. Pertemuan ini bukan sekadar dialog diplomatik biasa, melainkan momen krusial yang dipantau dunia karena berpotensi menentukan arah stabilitas kawasan hingga dampak global.
Tujuan utama pembicaraan ini adalah menciptakan gencatan senjata yang berkelanjutan guna mencegah eskalasi baru konflik yang melibatkan Washington dan Tel Aviv. Namun, di balik agenda tersebut, muncul pertanyaan besar: apakah pendekatan lama Amerika Serikat benar-benar berubah?
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, menegaskan bahwa Teheran memasuki perundingan dengan tingkat ketidakpercayaan yang tinggi. Pengalaman sebelumnya—termasuk pelanggaran kesepakatan dan tekanan berulang—membuat Iran bersikap jauh lebih hati-hati dalam setiap langkah diplomasi.
Menurut tulisan Alireza Hashemi di PressTV, delegasi Iran yang dipimpin Ketua Parlemen Mohammad Baqer Qalibaf membawa proposal 10 poin yang menjadi garis tegas dalam negosiasi. Di antaranya adalah penghentian total kebijakan “tekanan maksimum” serta pengakuan atas kendali Iran terhadap Selat Hormuz, jalur vital energi dunia.
Sebaliknya, Amerika Serikat menawarkan proposal yang berfokus pada pembatasan program nuklir Iran. Pendekatan ini dinilai terlalu sempit oleh Teheran karena lebih menekankan pembatasan teknis dibandingkan dengan membangun kepercayaan jangka panjang.
Di sinilah letak kebuntuan utama. Kebijakan luar negeri Washington dan Israel dinilai masih dipandu oleh logika “perang tanpa akhir”—sebuah pola di mana ancaman terus didefinisikan ulang untuk membenarkan tindakan militer berikutnya. Dalam pola ini, klaim kemenangan sering kali diikuti oleh narasi ancaman baru, menciptakan siklus konflik yang berulang.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya menyatakan bahwa kemampuan nuklir Iran telah “dihancurkan”, namun kemudian kembali memperingatkan ancaman yang sama. Hal serupa juga terlihat dalam pernyataan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang kerap berubah antara klaim keberhasilan dan peringatan bahaya baru.
Pendekatan ini, menurut sejumlah pengamat, bertumpu pada tiga pola utama: standar ancaman yang terus bergeser, urgensi militer yang seolah tak pernah berakhir, serta siklus aksi-balasan yang memperpanjang konflik.
Di tengah dinamika tersebut, Iran menilai bahwa strategi Washington dan Tel Aviv lebih berorientasi pada pengendalian jangka panjang ketimbang penyelesaian konflik secara nyata. Hal ini diperkuat oleh fakta bahwa tekanan militer tidak berhasil menghapus kemampuan strategis Iran, baik dalam teknologi maupun pengaruh regional.
Wakil Presiden Iran, Mohammad Reza Aref, menyebut peluang kesepakatan tetap terbuka—namun dengan syarat. Jika Amerika Serikat datang dengan pendekatan “America First” yang menghormati kedaulatan Iran, kesepakatan bisa dicapai. Sebaliknya, jika tetap mengedepankan kepentingan “Israel First”, negosiasi berisiko gagal total.
Menurutnya, kegagalan diplomasi tidak hanya memperpanjang konflik, tetapi juga meningkatkan biaya global yang harus ditanggung dunia.
Pertemuan di Islamabad mungkin menghasilkan jeda sementara. Namun, tanpa perubahan mendasar dalam pendekatan Washington, khususnya meninggalkan logika konflik berkepanjangan, peluang terciptanya perdamaian yang stabil masih jauh dari pasti.












