Gencatan Senjata Picu Kritik di Israel, Elite Politik Salahkan Netanyahu dan Trump

favicon progres.id
Pemimpin oposisi yair lapid
Pemimpin oposisi Israel, Yair Lapid (Foto: Reuters)

PROGRES.ID – Kesepakatan gencatan senjata antara Iran dan Amerika Serikat memicu gelombang kritik dari para pemimpin politik Israel. Sejumlah tokoh menilai langkah tersebut sebagai kemunduran strategis dan bahkan “bencana politik” bagi negara itu.

Menukil The Jerusalem Post, pemimpin oposisi Yair Lapid secara terbuka mengecam keputusan tersebut. Dalam pernyataannya, ia menyebut kesepakatan itu sebagai kegagalan kepemimpinan politik dan strategis, serta memperingatkan dampak jangka panjang terhadap keamanan Israel.

“Belum pernah ada bencana politik seperti ini dalam sejarah kami,” ujarnya. Ia juga menyoroti bahwa Israel tidak dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan yang menyangkut keamanan nasionalnya.

Lapid menambahkan bahwa meskipun militer telah menjalankan tugasnya dan masyarakat menunjukkan ketahanan tinggi, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dinilai gagal mencapai target yang ditetapkannya sendiri.

Menurutnya, dampak dari kebijakan tersebut akan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk diperbaiki, akibat kesalahan perhitungan dan kurangnya perencanaan strategis.

Kritik juga datang dari kubu kanan. Anggota parlemen dari partai sayap kanan Otzma Yehudit, Zvika Fogel, justru menyalahkan Presiden AS Donald Trump. Dalam unggahannya di media sosial, ia menuding Trump menunjukkan kelemahan dalam menghadapi situasi tersebut.

Sementara itu, ketua partai Yisrael Beiteinu, Avigdor Liberman, memperingatkan bahwa gencatan senjata hanya memberi waktu bagi Iran untuk memperkuat diri. Ia menegaskan bahwa kesepakatan tanpa penghentian program nuklir, rudal balistik, dan dukungan terhadap kelompok bersenjata akan berujung pada konflik baru dengan risiko lebih besar.

Di sisi lain, kekhawatiran juga muncul dari wilayah utara Israel yang berbatasan dengan Lebanon. Sejumlah komunitas garis depan menilai penghentian operasi militer dapat memperkuat posisi Hezbollah.

Kepala Dewan Regional Galilea Atas, Moshe Davidovich, menyebut penghentian operasi di Lebanon sebagai kegagalan moral dan keamanan. Ia menilai langkah tersebut tidak sebanding dengan pengorbanan yang telah dilakukan pasukan dan warga sipil di wilayah perbatasan.

Pemerintah Israel sendiri menyatakan mendukung keputusan Trump untuk menghentikan serangan terhadap Iran selama dua pekan, namun menegaskan bahwa kesepakatan tersebut tidak mencakup Lebanon.

Beberapa jam setelah pengumuman itu, militer Israel tetap mengeluarkan peringatan evakuasi di wilayah Tyre, Lebanon selatan, di tengah laporan serangan terhadap sejumlah target. Hingga saat ini, Hizbullah dilaporkan belum melancarkan serangan balasan sejak gencatan senjata diumumkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *