PROGRES.ID – Juru bicara Angkatan Darat Iran menyatakan bahwa kesepakatan gencatan senjata dengan Amerika Serikat terjadi setelah pihak lawan gagal mencapai tujuan utama dalam konflik yang berlangsung lebih dari satu bulan.
Brigadir Jenderal Mohammad Akrami-Nia pada Kamis (9/4/2025) menjelaskan bahwa kesepakatan tersebut didasarkan pada proposal 10 poin yang diajukan Iran, yang akhirnya diterima oleh pihak Amerika.
Sebelumnya, Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran mengumumkan gencatan senjata selama dua pekan yang dimediasi oleh Pakistan. Kesepakatan ini membuka peluang bagi proses negosiasi lanjutan guna mengakhiri konflik secara permanen.
Klaim Kegagalan Tujuan Strategis
Akrami-Nia menegaskan bahwa pihak lawan memasuki perang dengan berbagai tujuan, baik yang diumumkan secara terbuka maupun yang bersifat terselubung. Ia menyebut target utama mereka adalah menggulingkan pemerintahan Iran dan memicu perubahan rezim.
Namun, menurutnya, seluruh target tersebut tidak tercapai.
“Evaluasi di tingkat strategis dan operasional menunjukkan bahwa musuh gagal dalam semua tujuan, baik makro maupun taktis,” ujarnya.
Kemampuan Militer Jadi Sorotan
Selain mengklaim kegagalan lawan, Iran juga menilai konflik ini memperlihatkan peningkatan kemampuan militernya. Akrami-Nia menyebut kesiapan tempur dan daya tangkal pasukan Iran berhasil mencegah eskalasi ke perang darat skala besar.
Di sektor pertahanan udara, Iran mengklaim mampu melacak dan menjatuhkan sejumlah pesawat tempur canggih milik lawan melalui sistem pertahanan terintegrasi.
Ia juga menyebut lebih dari 170 drone canggih berhasil dihancurkan, yang menurutnya menunjukkan efektivitas sistem deteksi dan respons militer Iran dalam berbagai level operasi.
Dampak Regional dan Kepercayaan terhadap AS
Akrami-Nia menilai konflik ini juga berdampak pada dinamika kawasan. Ia menyebut koordinasi di antara kelompok yang disebut sebagai “poros perlawanan” meningkat signifikan selama perang berlangsung.
Menurutnya, untuk pertama kalinya operasi gabungan dilakukan dalam skala luas, yang berpotensi meningkatkan daya tangkal kolektif di masa depan.
Di sisi lain, ia menilai perang ini turut menggerus kepercayaan negara-negara kawasan terhadap Amerika Serikat sebagai penjamin keamanan.
“Peristiwa ini menunjukkan bahwa AS tidak memiliki kemampuan efektif untuk melindungi sekutunya,” katanya.
Ia bahkan mengklaim bahwa serangan Iran berhasil menargetkan pangkalan militer AS di kawasan Teluk Persia, sehingga mengurangi efektivitas operasionalnya.
Latar Belakang Konflik
Konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel disebut dimulai pada 28 Februari, ketika kedua negara melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran.
Sebagai respons, Iran melancarkan operasi balasan yang melibatkan rudal balistik, hipersonik, dan drone ke berbagai target militer di kawasan.
Selama lebih dari 40 hari konflik berlangsung, Iran menyatakan tetap mempertahankan intensitas serangan terhadap kepentingan Amerika dan Israel di kawasan Timur Tengah.
Meski kini gencatan senjata telah disepakati, situasi di kawasan masih dinilai rapuh, dengan kemungkinan eskalasi tetap terbuka jika negosiasi lanjutan tidak mencapai hasil konkret.












