PROGRES.ID – Sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat (AS) di Irak dan Suriah dilaporkan menjadi sasaran serangan drone oleh kelompok perlawanan regional. Serangan ini disebut sebagai bentuk balasan atas operasi militer gabungan AS dan Israel terhadap Iran, serta aksi agresi lainnya di kawasan Asia Barat.
Media Irak melaporkan bahwa Pangkalan Udara Harir di wilayah Kurdistan, Irak, diserang menggunakan kendaraan udara tak berawak pada Selasa (7/4/2026) dini hari. Hingga saat ini, belum ada informasi resmi mengenai korban jiwa maupun tingkat kerusakan akibat serangan tersebut. Belum ada kelompok yang mengklaim bertanggung jawab.
Di sisi lain, kelompok yang menamakan diri “Perlawanan Islam di Irak” menyatakan telah melancarkan sedikitnya 11 serangan terhadap pangkalan yang menampung pasukan AS di Irak dan kawasan sekitarnya dalam 24 jam terakhir. Serangan tersebut disebut menggunakan drone kamikaze.
Perkembangan serupa juga terjadi di Suriah. Sejumlah ledakan kuat dilaporkan mengguncang fasilitas militer yang dikelola AS di distrik Qasrak, Provinsi Hasakah, setelah lokasi tersebut diserang beberapa drone bersenjata.
Stasiun televisi Irak, NTV, menyebutkan bahwa serangan di Suriah dilakukan oleh kelompok perlawanan Irak, meski tidak merinci kelompok mana yang terlibat. Sementara itu, kantor berita Suriah melaporkan sejumlah pesawat militer AS sempat dikerahkan untuk menghadapi drone yang masuk, namun tidak berhasil mencegah serangan.
Ketegangan di kawasan meningkat sejak AS dan Israel melancarkan serangan besar terhadap Iran pada 28 Februari. Serangan tersebut dilaporkan menargetkan fasilitas militer dan sipil, serta menyebabkan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur dalam skala luas.
Sebagai respons, angkatan bersenjata Iran disebut telah melancarkan gelombang serangan balasan menggunakan rudal dan drone terhadap kepentingan AS di kawasan Asia Barat serta posisi Israel di wilayah pendudukan.












