PROGRES.ID – Markas Pusat Khatam al-Anbiya milik Iran memperingatkan Amerika Serikat dan Israel bahwa angkatan bersenjata Iran berada dalam kondisi siaga penuh dan siap merespons setiap ancaman yang muncul.
Dalam pernyataan resmi yang dirilis Jumat, markas tersebut menegaskan bahwa pengalaman pelanggaran komitmen oleh pihak lawan di masa lalu membuat militer Iran tetap dalam posisi “siap tempur,” dengan menyebut “jari masih di pelatuk” sebagaimana yang ditunjukkan selama konflik 40 hari terakhir.
Tegaskan Kesiapan dan Peringatan Keras
Pihak militer Iran menyebut para pemimpin AS dan Israel tidak memiliki legitimasi untuk mengancam Iran, yang mereka klaim berhasil mempertahankan diri dalam konflik sebelumnya.
Pernyataan itu juga secara langsung menyinggung Presiden Donald Trump dan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, dengan meminta keduanya “mengevaluasi kembali hasil perang” yang dinilai berakhir tidak menguntungkan bagi pihak mereka.
Militer Iran menegaskan tidak akan membiarkan tindakan agresi terhadap negaranya berlalu tanpa balasan, serta akan terus mempertahankan hak-haknya, termasuk dalam pengelolaan jalur strategis energi.
Soroti Selat Hormuz dan Front Regional
Dalam pernyataan tersebut, Iran juga menegaskan akan mempertahankan kendali strategis atas Selat Hormuz, jalur vital bagi distribusi energi global.
Selain itu, Iran memperingatkan bahwa serangan lanjutan terhadap kelompok Hizbullah dan wilayah Lebanon dapat memicu respons militer yang lebih luas.
Latar Belakang Ketegangan
Ketegangan antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel meningkat sejak konflik yang dimulai pada akhir Februari, menyusul serangan yang menargetkan berbagai lokasi di Iran.
Sebagai balasan, Iran melancarkan serangan ke sejumlah target militer di kawasan, menunjukkan kapasitas militernya dalam menghadapi tekanan eksternal.
Gencatan Senjata dan Negosiasi
Di tengah eskalasi, mediasi oleh Pakistan menghasilkan kesepakatan gencatan senjata selama dua pekan, yang membuka ruang bagi negosiasi lanjutan di Islamabad.
Iran mengajukan proposal 10 poin sebagai dasar pembicaraan, termasuk penarikan pasukan AS dari kawasan, pencabutan sanksi, serta pengaturan keamanan regional.
Meski demikian, Teheran menegaskan bahwa proses diplomasi tidak berarti berakhirnya konflik, melainkan bagian dari strategi yang lebih luas, dengan tetap mempertahankan sikap waspada terhadap langkah-langkah pihak lawan.












