PROGRES.ID – Duta Besar Pakistan untuk Amerika Serikat, Rizwan Saeed Sheikh, menegaskan bahwa Lebanon merupakan bagian dari kesepakatan gencatan senjata antara Iran dan Amerika Serikat yang dimediasi Islamabad.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam wawancara dengan CNN pada Rabu, beberapa jam setelah Israel melancarkan serangan besar ke Lebanon yang menewaskan ratusan orang dan melukai lebih dari seribu lainnya.
Menurut Sheikh, kesepakatan yang diumumkan oleh Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif secara jelas mencakup penghentian permusuhan di seluruh kawasan, termasuk Lebanon. Ia menegaskan bahwa hal tersebut merupakan bagian dari pemahaman yang disepakati kedua pihak.
Ia juga menyebut serangan Israel sebagai contoh bagaimana gencatan senjata dapat terganggu oleh tindakan di lapangan. Sheikh mengingatkan bahwa pelanggaran serupa juga kerap terjadi dalam kesepakatan sebelumnya.
Di sisi lain, muncul perbedaan pandangan terkait cakupan kesepakatan tersebut. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan bahwa gencatan senjata tidak mencakup Lebanon. Pernyataan ini juga didukung oleh Gedung Putih, yang memberikan sinyal berbeda dari klaim Iran dan Pakistan.
Kesepakatan gencatan senjata dua pekan itu dicapai setelah Amerika Serikat menerima proposal 10 poin dari Iran, yang menjadi dasar negosiasi lanjutan untuk mengakhiri konflik.
Namun, sejumlah analis menilai Israel tidak dilibatkan secara penuh dalam proses tersebut. Peneliti dari Quincy Institute, Janet Abou-Elias, menyebut kondisi ini membuat Israel kehilangan pengaruh dalam jalur diplomasi.
Ia menilai serangan ke Lebanon dapat dilihat sebagai upaya untuk mengganggu proses diplomatik yang sedang berlangsung. “Serangan tersebut tampak sebagai upaya langsung untuk menggagalkan gencatan senjata,” ujarnya.
Menurutnya, setiap upaya untuk mencapai perdamaian, bahkan yang bersifat sementara, sangat bergantung pada kemampuan Amerika Serikat untuk mengendalikan sekutunya.
“Presiden AS Donald Trump memiliki pengaruh besar untuk melakukannya. Pertanyaannya adalah apakah ada kemauan politik untuk menggunakan pengaruh tersebut,” kata Abou-Elias.
Ketegangan kawasan sendiri meningkat sejak 28 Februari, ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan operasi militer terhadap Iran. Sebagai balasan, Iran melakukan serangan terhadap berbagai target militer di kawasan.
Di tengah dinamika tersebut, kejelasan mengenai cakupan gencatan senjata menjadi krusial, terutama di tengah meningkatnya kekerasan di Lebanon yang berpotensi menggagalkan upaya deeskalasi konflik secara lebih luas.












