PROGRES.ID – Seorang penulis sayap kanan Israel, Ben-Dor Yemini, menyampaikan kritik tajam terhadap narasi kemenangan dalam perang yang terus digaungkan para politisi Israel. Dalam tulisannya di surat kabar Israel, Yedioth Ahronoth, ia menegaskan bahwa era “kemenangan mutlak” dalam perang modern telah berakhir dan para pemimpin politik harus mulai menghadapi realitas di lapangan.
Menurutnya, penggunaan istilah seperti “kemenangan total” atau “kemenangan mutlak” tidak lagi realistis dalam konflik modern, terutama dalam perang melawan kelompok seperti Hizbullah dan dalam konfrontasi dengan Iran. Ia memperingatkan bahwa klaim kemenangan atas Iran atau Hizbullah justru bisa berbalik menjadi kekecewaan besar bagi masyarakat Israel karena pada kenyataannya kemenangan mutlak hampir mustahil dicapai dan masyarakat Israel harus berlarian ke bunker karena mendapat serangan bom setiap hari.
Ia menilai bahwa meskipun kerusakan besar dapat ditimbulkan terhadap Iran, hal itu tidak berarti kemenangan dapat diraih. Demikian pula, menurutnya, pelucutan senjata Hezbollah juga bukan sesuatu yang realistis dalam kondisi saat ini.
Ben-Dor Yemini juga menyoroti bahwa peningkatan intensitas serangan, pengeboman, dan kehancuran tidak bisa otomatis dianggap sebagai kemenangan. Ia menilai kemenangan sejati tidak bisa diukur hanya dari jumlah serangan atau tingkat kerusakan yang ditimbulkan dalam perang.
Ia juga menyinggung perang di Gaza yang telah berlangsung selama dua tahun. Menurutnya, sejak awal sudah ada peringatan bahwa perang tersebut tidak akan menghasilkan kemenangan yang jelas. Namun, hingga kini, kelompok Hamas disebut masih bertahan meskipun telah mengalami serangan besar-besaran.
Kondisi tersebut, menurutnya, menimbulkan pertanyaan besar mengenai definisi kemenangan dalam konflik modern. Ia menekankan bahwa para politisi harus berhenti menggunakan retorika berlebihan dan mulai menyampaikan situasi yang sebenarnya kepada publik.
Pernyataan ini mencerminkan mulai munculnya perdebatan di dalam Israel sendiri mengenai tujuan perang dan kemungkinan hasil akhir dari konflik yang berkepanjangan di kawasan. Sejumlah analis menilai, tanpa tujuan politik yang jelas, operasi militer berisiko berubah menjadi perang tanpa akhir tanpa kemenangan yang benar-benar bisa didefinisikan.












