PROGRES.ID – Serangan drone murah berteknologi tinggi yang dilakukan Hizbullah terhadap tank Merkava Israel di Lebanon selatan memicu kekhawatiran baru di kalangan militer Israel. Serangan itu dinilai menjadi sinyal kuat bahwa wajah peperangan modern telah berubah drastis.
Editor militer majalah Israel Defense, Ami Rojkes Dombe, menyoroti sebuah video pendek yang beredar luas di media sosial. Rekaman itu memperlihatkan drone kecil jenis FPV (first person view) melesat cepat menuju tank Merkava Israel di sebuah desa di Lebanon selatan.
Dalam video tersebut, pintu belakang tank tampak terbuka. Drone lalu masuk ke dalam kendaraan lapis baja itu seperti rudal pintar, sebelum akhirnya meledak. Rekaman lain juga menunjukkan serangan serupa terhadap kendaraan lapis baja lain di area yang sama. Hizbullah mengklaim video tersebut sebagai bukti keberhasilan operasional mereka.
Menurut Dombe, serangan ini menjadi salah satu serangan drone bunuh diri paling penting dan paling terdokumentasi dengan baik terhadap tank Israel dalam perang saat ini. Lebih dari sekadar tayangan dramatis, insiden itu disebut sebagai tanda nyata perubahan besar dalam strategi perang modern.
Ia menilai Israel belum sepenuhnya memahami ancaman baru tersebut, sementara Hizbullah justru dinilai belajar cepat dari perang di Ukraina. Dalam konflik itu, drone murah terbukti mampu menggeser dominasi tank dan senjata berat di medan tempur.
Dombe menjelaskan, sejak invasi Rusia ke Ukraina pada Februari 2022, drone FPV telah menjadi salah satu senjata paling mematikan. Drone jenis ini berukuran kecil, hanya berbobot beberapa kilogram, dan biaya produksinya relatif murah, yakni hanya ratusan dolar.
Meski murah, kemampuannya sangat berbahaya. Drone ini dilengkapi kamera yang memungkinkan operator mengendalikannya secara langsung lewat kacamata virtual atau layar. Drone juga bisa membawa hulu ledak dari granat RPG atau bahan peledak rakitan, lalu menghantam target layaknya rudal bunuh diri.
Dalam perang Ukraina, penggunaan drone disebut bertanggung jawab atas sekitar 70 hingga 80 persen korban luka dan tewas di medan perang. Jutaan unit diproduksi dan dihancurkan oleh kedua pihak, baik Rusia maupun Ukraina.
Drone murah itu terbukti efektif menghancurkan tank, truk militer, posisi artileri, hingga personel di area terbuka. Keunggulannya terletak pada biaya rendah, sulit dicegat, serta mudah diproduksi massal di fasilitas sederhana.
Dombe menilai Hizbullah telah memetik pelajaran penting dari konflik tersebut. Kelompok itu disebut mulai menggunakan drone FPV sejak awal 2024, lalu meningkatkan intensitas serangan secara signifikan dalam beberapa pekan terakhir, terutama sepanjang Maret hingga April 2026.
Karena itu, serangan terhadap tank Merkava bukan dianggap insiden tunggal. Laporan lain juga menyebut adanya serangan serupa terhadap pengangkut personel lapis baja dan kendaraan militer lainnya.
Yang paling mengkhawatirkan bagi Israel, kata Dombe, adalah fakta bahwa Hizbullah kini memakai teknologi yang sudah terbukti ampuh melawan pasukan reguler dan kendaraan tempur berat, terutama di desa-desa Lebanon selatan tempat pasukan darat Israel beroperasi.
Israel memang telah mengembangkan drone canggih, termasuk drone FPV berbasis serat optik, dan menggunakannya secara efektif. Namun, serangan terbaru ini memunculkan pertanyaan serius: apakah pelajaran dari perang Ukraina benar-benar sudah dipahami tepat waktu?
Sejak awal 2024, sejumlah lembaga riset di Israel sebenarnya sudah memperingatkan ancaman “tsunami drone”. Mereka menilai drone FPV murah berpotensi menjadi ancaman besar lintas wilayah, terutama jika digunakan dalam jumlah besar.
Militer Israel juga telah berinvestasi dalam sistem pengacau sinyal dan teknologi anti-drone. Namun kenyataan di lapangan menunjukkan masih ada celah besar, mulai dari pintu tank yang terbuka, posisi pasukan yang terekspos, hingga sulitnya menghadapi drone yang terbang rendah dengan kecepatan tinggi.












