PROGRES.ID – Sekretaris Jenderal Hizbullah, Naim Qassem, menilai serangan udara besar-besaran Israel ke Lebanon merupakan upaya menutupi kegagalan mereka di medan perang darat. Pernyataan itu disampaikan Qassem dalam pesan terbuka kepada rakyat Lebanon di tengah eskalasi konflik yang terus memanas.
Dalam pesannya, Qassem terlebih dahulu menyampaikan belasungkawa kepada warga Lebanon yang menjadi korban serangan, termasuk perempuan, anak-anak, dan pejuang Hizbullah yang gugur. Ia menyebut darah para korban sebagai simbol pengorbanan demi martabat bangsa dalam menghadapi agresi Israel dan Amerika Serikat.
Qassem menuding Israel gagal mencapai target utama operasi militernya di Lebanon selatan. Menurut dia, pasukan Israel tidak mampu melancarkan invasi darat seperti yang berulang kali diumumkan sebelumnya.
Ia mengklaim banyak tentara dan perwira Israel tewas dalam penyergapan yang dilakukan pejuang Hizbullah. Selain itu, kendaraan militer Israel disebut hancur di sejumlah titik pertempuran di desa dan kota-kota Lebanon Selatan.
Menurut Qassem, kegagalan itu terlihat dari perubahan target operasi militer Israel yang terus bergeser. Ia menyebut Israel sempat menargetkan Sungai Litani, lalu beralih ke operasi terbatas, menguasai wilayah melalui tembakan jarak jauh, hingga hanya mengandalkan serangan penghancuran dari udara.
Selama lebih dari 40 hari konflik, Qassem mengklaim Israel juga gagal menghentikan serangan balasan Hizbullah. Roket, rudal, dan drone kelompok itu disebut tetap mampu menembus wilayah Israel, termasuk hingga kota Haifa dan sekitarnya.
Ia menilai militer Israel terkejut menghadapi taktik tempur Hizbullah di lapangan. Qassem menyebut kelincahan, pertahanan, dan keberanian para pejuang Hizbullah membuat pasukan Israel kesulitan membangun pijakan di wilayah Lebanon selatan.
Bahkan, menurut dia, pengerahan pasukan besar sekalipun tidak akan cukup untuk menduduki Lebanon selatan. Qassem menyebut upaya invasi darat hanya akan memperbesar kerugian di pihak Israel.
Dalam pidatonya, Qassem menilai serangan udara Israel pada Rabu yang menyasar Beirut, pinggiran selatan, Lembah Bekaa, hingga Gunung Lebanon merupakan bentuk pelampiasan atas kegagalan di garis depan.
Ia menuduh Israel sengaja menargetkan kawasan padat penduduk, desa, dan kota untuk menutupi ketidakmampuan militernya di lapangan. Meski demikian, Qassem menegaskan rakyat Lebanon tetap menunjukkan ketangguhan di tengah tekanan perang.
Ia memuji solidaritas warga yang mengungsi dan masyarakat yang membantu para korban. Menurut dia, ketahanan sipil Lebanon menjadi bukti bahwa tekanan militer Israel tidak mampu mematahkan semangat rakyat.
Qassem juga menegaskan Hizbullah akan terus melanjutkan perlawanan. Ia menyatakan para pejuang di garis depan tetap siap bertempur dan tidak akan mundur.
Dalam pesannya, Qassem menolak kembalinya situasi seperti sebelum perang. Ia juga meminta pihak berwenang di Lebanon agar tidak memberikan konsesi politik secara cuma-cuma kepada Israel.
Menurut dia, Lebanon hanya bisa mempertahankan kedaulatan melalui persatuan antara negara, tentara, rakyat, dan kelompok perlawanan. Qassem menutup pesannya dengan menegaskan keyakinannya bahwa tekanan militer Israel tidak akan mampu mematahkan tekad rakyat Lebanon.












