PROGRES.ID, JAKARTA – Bandung kini memiliki semakin banyak pilihan transportasi cepat. Kehadiran Jalan Tol Jakarta–Cikampek (Japek) II Selatan dan Kereta Cepat Whoosh diyakini akan memperpendek waktu perjalanan antara dua kota besar ini.
Namun, saat ini baru Whoosh yang sudah bisa dinikmati masyarakat, sementara Tol Japek II Selatan masih dalam tahap konstruksi. Lalu, mana yang lebih cepat menuju Bandung?
Kecepatan Whoosh: 30–90 Menit
Menurut data KCIC, kereta cepat Whoosh mampu melaju hingga 350 km/jam.
- Dari Stasiun Halim (Jakarta Timur) – Stasiun Padalarang (Bandung Barat): hanya 30 menit.
- Dari Stasiun Halim – Stasiun Tegalluar (Kabupaten Bandung): sekitar 45 menit.
Meski begitu, penumpang belum bisa langsung tiba di pusat Kota Bandung karena lokasi stasiun berada di pinggiran.
Dari Stasiun Padalarang, perjalanan ke pusat kota dilanjutkan dengan KA Feeder sekitar 20 menit, sehingga total waktu menjadi ±50 menit.
Dari Stasiun Tegalluar, penumpang bisa naik Bus DAMRI atau Shuttle Summarecon dengan estimasi ±45 menit, sehingga total waktu ke pusat kota mencapai ±90 menit, tergantung kondisi lalu lintas.
Tol Japek II Selatan: Perjalanan ±2 Jam ke Bandung
Proyek Tol Japek II Selatan sepanjang 62 km menghubungkan Jatiasih (Bekasi) – Sadang (Purwakarta). Dengan asumsi kecepatan rata-rata 80 km/jam, waktu tempuh ruas ini sekitar 45 menit – 1 jam.
Namun, perjalanan ke Bandung belum selesai. Pengendara masih harus melanjutkan melalui Tol Cipularang dan Tol Purbaleunyi sejauh ±60 km dengan estimasi 1 jam 15 menit.
Artinya, total perjalanan Jakarta – Bandung via Tol Japek II Selatan diperkirakan ±2 jam, belum termasuk waktu menuju Gerbang Tol Jatiasih.
Kompetisi atau Saling Membunuh?
Menukil Detik.com, pengamat transportasi sekaligus akademisi Unika Soegijapranata, Djoko Setijowarno, menilai kehadiran Japek II Selatan dan Whoosh berpotensi saling berkompetisi.
Menurutnya, meski Tol Japek II Selatan bisa memangkas waktu tempuh, pengendara tetap menghadapi hambatan kemacetan saat masuk ke Kota Bandung. Sementara Whoosh lebih unggul karena bisa membawa penumpang lebih dekat ke pusat kota, meskipun stasiunnya berada di pinggiran.
Djoko juga menyoroti kebijakan pemerintah yang kerap membangun infrastruktur transportasi tanpa perencanaan sistem nasional yang terintegrasi.
“Sebetulnya pemerintah jangan membangun sesuatu yang saling membunuh. Kita belum punya Sistem Transportasi Nasional. Kalau tidak terpakai, ujung-ujungnya rakyat juga yang rugi karena pakai duit rakyat,” tegasnya.
Ia juga menyinggung rencana pembangunan kereta cepat Jakarta–Surabaya, yang menurutnya berpotensi menimbulkan persoalan serupa jika tidak diatur dengan matang.










