PROGRES.ID – Warga Yogyakarta tengah ramai memperbincangkan sebuah video TikTok yang menampilkan Tugu Yogyakarta seolah-olah ambruk. Meski hanya rekayasa visual, unggahan tersebut dengan cepat menyebar dan memicu reaksi keras dari masyarakat serta warganet.
Dalam cuplikan yang beredar, ikon Kota Yogyakarta itu diedit tampak roboh, disertai caption berbahasa Jawa “salahe takon kok ragenah” dan tagar #tugujogjaambruk. Banyak pengguna internet sempat mengira peristiwa tersebut benar-benar terjadi sebelum mengetahui bahwa itu hanyalah manipulasi digital.
Warga Jogja Bereaksi Keras
Protes muncul dari warga Yogyakarta yang menilai konten tersebut menyesatkan dan tidak menghormati nilai historis Tugu Jogja. Monumen yang menjadi bagian penting dari Sumbu Filosofis Kota Yogyakarta itu bukan sekadar landmark, melainkan simbol budaya dan identitas kota.
Salah satu komentar yang ramai mendapat perhatian datang dari akun bernama “SRI SULTAN HB X FAMILY” yang menegur pembuat konten karena dinilai tidak memahami nilai historis Tugu Jogja.
“Nyuwun sewu mas, kalau buat konten dipikir dulu. Ini Tugu Jogja—ikon Yogyakarta, bagian dari Sumbu Filosofis yang bersejarah dan sakral. Kalau sampeyan wong Jogja mestinya paham maknanya. Yo rapopo buat konten, tapi jangan jadikan tempat bersejarah seperti ini bahan bercandaan,” tulis akun tersebut.
Sejumlah warganet lainnya juga menekankan bahwa Tugu Jogja memiliki pengakuan internasional sebagai situs warisan budaya, sehingga penggambaran palsu semacam itu dinilai meremehkan nilai sejarah yang dijunjung masyarakat.
Pentingnya Etika Digital di Era Konten
Peristiwa ini kembali mengingatkan pentingnya etika digital dalam produksi konten. Di tengah derasnya arus informasi, satu unggahan editan dapat memicu kesalahpahaman publik dan berpotensi menyinggung sentimen budaya setempat.
Kreativitas dalam berkonten tetap diperbolehkan, namun diharapkan tidak mengorbankan simbol sejarah yang memiliki makna mendalam bagi sebuah daerah.
Konten dapat menarik perhatian tanpa harus menyalahi nilai budaya—dan kasus ini menjadi contoh bahwa kehati-hatian tetap harus diutamakan. ***












