PROGRES.ID – Indonesia adalah salah satu negara bekas jajahan Eropa yang unik. Jika di banyak negara lain, bahasa penjajah masih digunakan secara luas—sebut saja Filipina dengan bahasa Spanyol-Inggris atau Malaysia dengan bahasa Inggris—maka di Indonesia, bahasa Belanda hampir tidak terdengar sama sekali. Padahal, Belanda menjajah Nusantara selama lebih dari 300 tahun. Lalu, mengapa bahasa Belanda tidak bertahan di Indonesia?
Jawabannya ternyata kompleks, penuh dengan keunikan cara Belanda mengelola koloninya, dan justru berujung pada lahirnya identitas nasional Indonesia yang kokoh.
VOC: Kolonialisasi ala Korporasi, Bukan Negara
Tidak seperti Spanyol atau Portugis yang menjajah demi menyebarkan agama, budaya, dan bahasa, Belanda datang dengan misi yang berbeda. Pada abad ke-17, Nusantara dikuasai oleh VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie)—sebuah perusahaan dagang raksasa, lengkap dengan saham layaknya korporasi modern.
Tujuan utama VOC sederhana: mencari untung sebesar-besarnya dari rempah-rempah. Karena fokusnya pada perdagangan, VOC memilih cara paling praktis untuk berkomunikasi: menggunakan bahasa Melayu, bukan Belanda.
Sejak abad ke-7, bahasa Melayu memang sudah menjadi lingua franca di kepulauan Nusantara berkat perdagangan dan pengaruh Kesultanan Malaka. Jadi, bagi Belanda, jauh lebih mudah mengajari pegawai mereka bahasa Melayu daripada memaksakan bahasa Belanda kepada masyarakat lokal.
Belanda Enggan Menyebarkan Bahasanya
Setelah VOC dibubarkan pada 1800, koloni Nusantara diambil alih langsung oleh pemerintah Belanda. Namun, meski kontrol semakin ketat, bahasa Belanda tetap tidak meluas.
Ada beberapa alasan:
- Bahasa Belanda hanya untuk elite
Sekolah berbahasa Belanda hanya diperuntukkan bagi anak-anak bangsawan atau kalangan tertentu. Rakyat biasa hampir mustahil bisa mengaksesnya. Pada tahun 1900, jumlah sekolah di seluruh Hindia Belanda hanya sekitar 1.500, artinya satu sekolah untuk setiap 24.000 orang. - Pejabat Belanda tetap memakai Melayu
Bahkan tokoh bangsawan Jawa seperti R.A. Kartini mencatat bahwa pejabat Belanda sering berbicara dengannya dalam bahasa Melayu, meskipun sama-sama fasih berbahasa Belanda. - Tingkat literasi rendah
Hingga 1945, hanya 5–8% penduduk Indonesia yang melek huruf Latin. Dengan kondisi seperti ini, bahasa Belanda nyaris mustahil menjadi bahasa massa.
Ironi: Belanda Justru Membantu Melahirkan Bahasa Indonesia
Ketika Belanda mulai menata administrasi koloninya, mereka menetapkan bahasa Melayu sebagai bahasa resmi pendamping Belanda. Kamus dibuat, ejaan distandardisasi, dan sekolah-sekolah lokal lebih sering menggunakan bahasa Melayu ketimbang Belanda.
Tak disangka, langkah praktis ini menjadi benih lahirnya nasionalisme.
Belanda juga mengelompokkan masyarakat ke dalam tiga kategori:
- Orang Eropa (termasuk Indo-Belanda)
- Timur Asing (Arab, Tionghoa, India, dll.)
- Pribumi (Inlanders)
Meski berniat membedakan, klasifikasi “inlander” justru menyatukan ratusan etnis berbeda dalam satu identitas bersama: orang Indonesia. Dan bahasa pemersatunya bukan Belanda, melainkan Melayu.
Sumpah Pemuda 1928: Bahasa Indonesia Lahir
Momen penting terjadi pada Kongres Pemuda II, Oktober 1928. Para pemuda dari berbagai daerah dan suku mengikrarkan tiga janji:
- Bertumpah darah yang satu, Tanah Air Indonesia
- Berbangsa yang satu, Bangsa Indonesia
- Menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia
Bahasa Indonesia yang dimaksud adalah variasi bahasa Melayu yang sudah distandardisasi. Pilihan ini strategis, sebab jika memakai bahasa Jawa—meski dituturkan hampir separuh penduduk—akan sulit diterima daerah lain.
Sejak saat itu, bahasa Indonesia menjadi simbol persatuan, identitas, dan perlawanan terhadap kolonialisme.
Jepang dan Proklamasi: Bahasa Indonesia Kian Mengakar
Pada masa pendudukan Jepang (1942–1945), Belanda tersingkir. Jepang justru menggunakan bahasa Indonesia untuk administrasi dan propaganda. Tokoh-tokoh nasionalis seperti Sukarno memanfaatkan kesempatan ini untuk menyebarkan ide kemerdekaan.
Setelah proklamasi 1945 dan pengakuan kedaulatan 1949, bahasa Indonesia resmi ditetapkan sebagai bahasa nasional. Sementara itu, bahasa Belanda semakin ditinggalkan. Hanya sedikit kata-kata serapan yang bertahan—seperti kantor, wortel, polisi, gratis, dan spanduk. Diperkirakan sekitar 10% kosakata Indonesia berasal dari Belanda, tetapi bahasa itu sendiri lenyap dari kehidupan sehari-hari.
Kesimpulan
Indonesia adalah contoh langka di dunia: negara yang dijajah ratusan tahun tanpa meninggalkan bahasa penjajahnya. Semua berawal dari keputusan praktis VOC, dilanjutkan dengan kebijakan Belanda yang tidak pernah serius menyebarkan bahasa mereka. Justru bahasa Melayu yang dipilih, distandardisasi, lalu bertransformasi menjadi bahasa Indonesia—bahasa persatuan yang kita gunakan hingga hari ini.
Dengan kata lain, Belanda ingin menguasai Indonesia, tapi secara tidak sengaja malah membantu menciptakan identitas nasional Indonesia.












