PROGRES.ID– Hasil survei terbaru dari Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) menunjukkan bahwa belum ada calon wakil presiden (cawapres) yang mampu meningkatkan perolehan suara Ganjar Pranowo dari PDI-Perjuangan, baik dalam persaingan dengan Anies Baswedan maupun Prabowo Subianto.
Dalam survei terbaru SMRC yang dirilis pada hari Kamis (6/7/2023), beberapa tokoh diuji sebagai calon wakil presiden yang dipasangkan dengan Ganjar Pranowo. Beberapa nama yang muncul antara lain Airlangga Hartarto, Erick Thohir, Khofifah Indar Parawansa, Mahfud MD, Sandiaga Uno, Said Aqil Siradj, dan Yahya Staquf. Simulasi pasangan Ganjar Pranowo dengan tujuh nama tersebut menghasilkan persentase suara antara 29,9 persen hingga 33,9 persen.
Perbedaan angka ini masih sangat kecil jika dibandingkan dengan calon wakil presiden Prabowo Subianto yang diuji berpasangan dengan Muhaimin Iskandar.
Namun, jika berhadapan dengan calon presiden Anies Baswedan yang diuji berpasangan dengan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), terdapat perbedaan yang signifikan di bawah dukungan untuk Ganjar Pranowo.
“Perbedaan antara pasangan-pasangan ini tidak melebihi enam persen. Oleh karena itu, jika mempertimbangkan preferensi pemilih terhadap pasangan mana yang terbaik untuk Ganjar agar lebih kompetitif menghadapi Prabowo dan Muhaimin Iskandar, tidak ada perbedaan signifikan antara satu tokoh dengan tokoh lainnya.”Jelas Saiful Mujani, pendiri SMRC.
Survei sebelumnya juga telah menyebutkan nama-nama calon wakil presiden yang berpotensi mendampingi Ganjar Pranowo, sesuai dengan preferensi publik.
Erick Thohir menduduki peringkat teratas dengan 19,4 persen, diikuti oleh Sandiaga Uno dengan 14,3 persen, dan Mahfud MD dengan 13,2 persen. Sementara Khofifah Indar Parawansa, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), Airlangga Hartarto, Said Aqil Siradj, dan Yahya Cholil Staquf memperoleh suara antara 8 hingga 2 persen.
Seorang relawan Ganjar Pranowo di Surabaya, Felly Ponto, berharap calon wakil presiden yang akan mendampingi Ganjar adalah sosok yang mampu bekerja sama dan mendukung program kerja yang akan dijalankan.
“Beberapa nama memang muncul, dan kami cenderung menunggu perkembangan. Namun, saat berdiskusi, nama Erick Thohir muncul cukup banyak. Pertimbangannya adalah karena dia mampu sejajar dengan Ganjar dalam bekerja. Selain itu, sebagai seorang menteri, kemajuan yang dicapainya juga mendukung pemerintahan Jokowi,” ujar Felly Ponto.
Surokim Abdussalam, seorang pengamat politik dari Universitas Trunojoyo, Madura, menyatakan bahwa saat ini belum ada pasangan definitif antara calon presiden dan calon wakil presiden sehingga belum dapat membandingkan elektabilitas mereka.
Menurut Surokim, kemunculan nama-nama calon wakil presiden tidak dapat dilihat hanya dari satu variabel, tetapi juga melibatkan perilaku pemilih, faktor demografis, psikografis, ekonomi politik, dan pilihan rasional.
Selain itu, mengingat tidak ada calon yang sempurna, tokoh mana pun yang muncul sebagai calon wakil presiden harus mampu melengkapi dan mengatasi kelemahan yang dimiliki calon presiden.
“Yang dibutuhkan dalam pasangan presiden-wakil presiden adalah kemampuan mereka saling melengkapi satu sama lain, dan tinggal mencari tahu apakah ada calon yang dapat melengkapi kelemahan yang dimiliki oleh Ganjar. Dengan mengetahui kelemahan tersebut, calon yang dapat mengatasi kekurangan itu akan menjadi penguat,” kata Surokim Abdussalam.(VOA)












