Islam  

Kiswah, Pesona Ikonik yang Berganti Setiap Tahun Baru Islam

favicon progres.id
istimewa

PROGRES.ID– Dalam gemerlap senja di Makkah, tepat saat 1 Muharram , suasana tak seperti biasanya. Ka’bah, pusat ibadah umat Muslim, bersinar mempesona di bawah cahaya rembulan. Namun, kali ini ada yang berbeda, Kiswah, si kain penutup suci, diganti untuk pertama kalinya pada hari yang spesial ini.

Sebelumnya, ritual penggantian Kiswah dilakukan setiap 9 Dzulhijjah, saat jemaah haji berada di puncak kesakralan mereka di Arafah. Namun, inovasi luar biasa ini membawa perubahan dengan mengalihkan tradisi tersebut pada momen yang tak kalah sakral, awal tahun baru Islam. Sungguh sebuah keputusan menarik yang mengundang decak kagum.

Kiswah itu sendiri tak ubahnya seperti sehelai misteri. Kain hitam yang dihiasi indah oleh ayat-ayat suci Al-Qur’an, menyelimuti Kabah dengan anggun. Namun, ketika tahun baru Islam (1 Muharram) tiba, Kabah mengenakan jubah baru berupa kain putih polos, sebuah simbol suci bagi jemaah haji yang sedang memasuki tahap ihram.

Tak sekadar kain biasa, Kiswah Ka’bah terbuat dari sutera hitam yang sangat istimewa. Mengandung hiasan kaligrafi ayat-ayat suci, dituliskan dengan benang emas dan perak yang gemerlap. Sungguh, keindahannya mencuri pandangan dan hati setiap orang yang bersaksi keagungannya.

Ukuran Kiswah sungguhlah mengagumkan, sepanjang 6,3 meter dengan lebar 3,3 meter. Besar, megah, dan anggun, bagaikan pelukan kasih sayang bagi seluruh jemaah haji dan para peziarah yang datang dari berbagai penjuru dunia.

Namun, tak hanya itu yang membuat Kiswah istimewa. Terdapat hiasan berupa pita emas yang membentuk utrujah (lonceng kecil) dan permata- permata berkilau seukuran telur burung dara yang menghiasi dengan memukau. Sungguh sebuah karya seni yang luar biasa, mencerminkan kekayaan dan keindahan budaya Islam.

Sejarah mencatat, Abu Karb As’ad, seorang raja dari dinasti Himyariah, berjasa menjadi orang pertama yang menutup Kabah dengan Kiswah. Sejak saat itu, tradisi mulia ini diwariskan dari generasi ke generasi, menjadi bukti cinta dan pengabdian terhadap rumah suci umat Islam.

Kiswah adalah bukti bahwa bahkan dalam keheningan, kain hitam dan putih dapat berkisah tentang nilai-nilai suci yang tak ternilai harganya. Ia adalah simbol perubahan dan kesucian, mengajarkan kita untuk selalu memperbaharui diri dan menyambut tahun baru dengan hati yang suci.

Seiring sang waktu, Kiswah telah menjadi saksi bisu dari ribuan kisah dan doa yang terukir di dinding hati setiap peziarah. Ia telah menyaksikan mata yang berlinang air mata karena haru dan sukacita. Dan pada setiap ganti tahun baru Islam, Kiswah tetap tegar, siap untuk menyambut pelukan baru dari seluruh umat Muslim.

Mungkin saja, setiap helai kain yang disematkan pada Kabah membawa pesan-pesan tersirat bagi siapa pun yang ingin mendengarkan. Sebuah kisah tak terkira yang mampu menyentuh jiwa dan menyatukan hati dalam satu ikatan kasih sayang, yakni cinta kepada Sang Pencipta.

Inilah pesona Kiswah, sebuah kain penutup yang tak hanya menghias Kabah, tapi juga menghiasi sejuta jiwa yang merindukan kehadiran-Nya. Ia adalah karya seni yang diberkahi oleh waktu, membawa hikmah dan kebijaksanaan bagi kita semua.

Dan pada tiap pergantian tahun baru Islam, jutaan pasang mata akan terpaku pada keindahan Kiswah yang baru. Sebuah momen magis ketika kebesaran dan kemuliaan-Nya hadir dalam balutan kain hitam dan putih nan rupawan.

Sungguh, Kiswah adalah sebuah pesona ikonik yang takkan pernah pudar, tak akan pernah tergantikan. Ia adalah bagian tak terpisahkan dari perjalanan panjang umat manusia menuju cahaya-Nya. Selamat tinggal, Kiswah lama, dan selamat datang, Kiswah baru. (Koe)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *