PROGRES.ID, WASHINGTON — Harga diesel atau solar di Amerika Serikat (AS) menembus US$6 per galon untuk pertama kalinya dalam sejarah. Lonjakan tersebut mulai menimbulkan kekhawatiran terhadap biaya transportasi dan harga barang karena pelaku usaha berpotensi meneruskan kenaikan biaya energi kepada konsumen.

Data AAA menunjukkan harga rata-rata nasional diesel mencapai US$6,05 per galon pada Jumat (11/9/2026). Angka itu melonjak lebih dari 60 persen dibandingkan setahun sebelumnya yang berada di level US$3,71 per galon.

Untuk diketahui, bahwa 1 galon AS setara dengan sekitar 3,785 liter. Dengan asumsi kurs Rp17.500 per US$1, harga US$6,05 per galon tersebut setara sekitar Rp105.875 per galon, atau hampir Rp28.000 per liter.

Kenaikan ini menjadi perhatian karena diesel merupakan bahan bakar utama untuk truk angkutan barang, kereta api, kendaraan konstruksi hingga sektor pertanian. Artinya, peningkatan harga solar berpotensi menaikkan biaya distribusi berbagai barang di AS.

California menjadi wilayah dengan harga diesel tertinggi. AAA mencatat harga rata-rata diesel di negara bagian tersebut mencapai US$7,98 per galon.

Dengan kurs yang sama, harga tersebut setara sekitar Rp139.650 per galon, atau sekitar Rp36.900 per liter.

Harga bensin juga terus meningkat. Rata-rata nasional bensin di AS mencapai US$4,29 per galon, yang setara sekitar Rp74.900 per galon atau hampir Rp19.800 per liter.

Biaya Mulai Mengalir ke Konsumen

Sejumlah ekonom menilai dunia usaha sejauh ini masih mampu menahan sebagian dampak kenaikan harga diesel. Namun, kondisi tersebut diperkirakan tidak akan bertahan jika harga bahan bakar tetap tinggi dalam beberapa bulan mendatang.

Thomas Ryan, ekonom senior Amerika Utara di Capital Economics, mengatakan perusahaan kemungkinan mulai meneruskan kenaikan biaya tersebut kepada konsumen apabila tekanan harga berlangsung lebih lama.

Tingginya harga diesel bahkan mulai terlihat pada tingkat grosir. Departemen Tenaga Kerja AS mencatat lebih dari sepertiga kenaikan harga barang yang dibayarkan produsen pada Agustus berkaitan dengan peningkatan biaya diesel. Harga diesel sendiri naik 24,1 persen pada bulan tersebut.

Perang Iran Tekan Pasokan Minyak

Pakar perminyakan Patrick De Haan dari GasBuddy mengatakan lonjakan harga diesel berkaitan dengan perang di Iran yang mengganggu pasokan minyak global.

Harga minyak mentah Brent, salah satu acuan utama harga minyak dunia, melonjak hingga sekitar US$108 per barel pada Kamis ketika konflik antara AS dan Iran semakin meningkat.

Tekanan terhadap harga diesel juga berasal dari keterbatasan kapasitas pengolahan minyak di sejumlah wilayah, termasuk Timur Tengah dan Rusia.

Serangan drone Ukraina terhadap infrastruktur energi Rusia turut mengurangi kemampuan negara tersebut dalam mengolah minyak. Kondisi itu semakin memperketat pasokan produk bahan bakar di pasar internasional.

Atlantic Council mencatat Ukraina meningkatkan serangan drone terhadap kilang minyak Rusia sejak awal tahun. Serangkaian serangan tersebut ikut memicu kekurangan bahan bakar.

De Haan menilai persoalan itu cukup serius karena hampir seluruh mesin berat dalam berbagai sektor ekonomi masih membutuhkan diesel.

Terbatasnya pasokan akibat gangguan pada aktivitas penyulingan menjadi salah satu alasan harga diesel meningkat lebih cepat dibandingkan bensin.

Tekanan pasokan tersebut diperkirakan belum akan segera berakhir. S&P Global Energy menyatakan produksi minyak global diperkirakan belum kembali ke level sebelum perang hingga akhir 2027, berbeda dari proyeksi sebelumnya.