Harga Makanan hingga Mobil Bisa Terdampak

Konsumen AS sejauh ini relatif terlindungi dari lonjakan harga diesel. Salah satu penyebabnya adalah perusahaan biasanya masih memiliki kontrak pasokan dengan harga yang telah disepakati sebelumnya sehingga kenaikan biaya belum sepenuhnya dibebankan kepada pelanggan.

Namun, situasi dapat berubah ketika kontrak tersebut berakhir dan perusahaan mulai menghadapi biaya tambahan bahan bakar yang lebih besar.

Patrick De Haan memperkirakan dampak yang lebih luas akan terasa jika harga diesel tinggi bertahan selama lebih dari enam pekan. Pada kondisi tersebut, perusahaan besar yang membutuhkan bahan bakar dalam jumlah besar akan semakin sulit menyerap kenaikan biaya.

Sektor pangan menjadi salah satu bidang yang paling rentan.

David Ortega, ekonom pangan dari Michigan State University, mengatakan produk yang membutuhkan pendinginan dan harus dikirim dalam jarak jauh berpotensi mengalami kenaikan harga lebih besar. Seafood dan produk pertanian segar termasuk di antaranya.

Sebaliknya, barang yang tidak mudah rusak serta produk yang berasal dari pemasok lokal cenderung lebih terlindungi dari kenaikan ongkos bahan bakar.

Dampak kenaikan diesel juga dapat menjalar ke berbagai sektor lain. Biaya pengiriman furnitur, misalnya, berpotensi meningkat karena ukuran dan berat barang membutuhkan transportasi lebih mahal.

Harga mobil baru pun bisa ikut terdorong, terutama melalui kenaikan biaya pengiriman atau *destination charges*.

Dengan demikian, rekor harga diesel di AS bukan hanya persoalan bagi perusahaan transportasi. Jika harga tinggi bertahan dalam waktu lama, kenaikan biaya bahan bakar berpotensi merambat ke berbagai rantai pasok dan akhirnya meningkatkan beban pengeluaran konsumen.