PROGRES.ID – Bursa Efek Indonesia kembali diguncang oleh pergerakan mengejutkan saham emiten properti PT Diamond Citra Propertindo Tbk (DADA). Dalam sepekan terakhir, harga saham DADA yang semula hanya Rp7 per lembar tiba-tiba melonjak drastis hingga Rp42 per lembar pada penutupan perdagangan Kamis (4/9/2025). Lonjakan harga lebih dari 250% ini sukses menarik perhatian investor ritel maupun institusi, ditambah antrean beli (bid) yang menembus 12 juta lot.
Melihat euforia pasar, manajemen DADA memutuskan untuk membagikan dividen tunai kepada pemegang saham. Namun, yang lebih menarik, dalam public expose yang digelar pada hari yang sama, perseroan tidak sedikit pun menyebutkan adanya rencana backdoor listing perusahaan Jepang—isu panas yang selama ini menjadi biang kerok kenaikan harga saham.
DADA Klarifikasi, Rumor Backdoor Listing Masih Abu-abu
Bayu Setiawan, Direktur DADA, menegaskan bahwa fluktuasi harga saham adalah bagian dari mekanisme pasar yang dipengaruhi permintaan dan penawaran. Ia menambahkan, perusahaan selalu berkomitmen memberikan informasi transparan agar investor bisa mengambil keputusan dengan tepat.
Menariknya, Bayu tidak menutup peluang bahwa suatu hari nanti investor asing—termasuk dari Jepang—bisa masuk melalui mekanisme backdoor listing. Namun, ia menekankan bahwa sampai saat ini belum ada informasi material resmi yang harus diumumkan ke publik.
“Kalau memang ada perkembangan signifikan, tentu akan kami sampaikan ke Bursa Efek Indonesia sesuai regulasi,” ujar Bayu seperti dinukil dari WartaEkonomi.co.id.
Proyek Properti Masih Jadi Andalan
DADA saat ini mengembangkan lebih dari 20 proyek residensial dan komersial di Jabodetabek, mulai dari pembangunan hingga serah terima unit. Beberapa proyek andalan yang sudah berjalan antara lain:
- Dave Apartment di Depok, dekat Universitas Indonesia.
- Apple 1 Condovilla di Jl. Raya Jatipadang, Jakarta Selatan.
- Apple 3 Condovilla di Karang Tengah, Lebak Bulus.
Manajemen optimis proyek-proyek tersebut akan menjadi motor penggerak kinerja ke depan, sekaligus menjaga reputasi perusahaan sebagai pengembang properti yang agresif.
Investor Mulai Koleksi Saham, Kenaikan 214% dalam Sebulan
Tak hanya dalam sepekan, saham DADA tercatat sudah melesat 214,29% sepanjang sebulan terakhir. Lonjakan ini membuat banyak investor mulai melirik emiten properti tersebut, meski diwarnai rumor panas soal masuknya perusahaan Jepang melalui backdoor listing.
Bayu menegaskan, perusahaan selalu terbuka dengan peluang kerja sama strategis maupun investasi, baik lokal maupun asing, demi memperkuat kinerja jangka panjang.
Aksi Cuan Pengendali Bikin Pasar Kian Panas
Di balik euforia kenaikan harga, ada aksi diam-diam dari pengendali DADA, yakni PT Karya Permata Inovasi Indonesia. Mereka tercatat melakukan divestasi saham dalam jumlah besar.
Pada 14 Agustus 2025, pengendali menjual 50 juta saham di harga Rp15 per lembar dengan total transaksi Rp750 juta.
Sebelumnya, pada 12–13 Agustus 2025, mereka juga melepas 249,5 juta saham di harga Rp13–Rp14 per lembar.
Pasca transaksi, kepemilikan pengendali turun menjadi 58,7% dari sebelumnya 59,38%. Aksi jual ini menimbulkan spekulasi bahwa kenaikan harga DADA bisa dimanfaatkan sebagai momentum untuk “ambil cuan”.
Kesimpulan: Saham DADA, Antara Euforia dan Risiko
Lonjakan gila-gilaan saham DADA memang menggoda investor. Namun, absennya kepastian soal rumor backdoor listing perusahaan Jepang membuat pasar harus ekstra waspada. Dengan aksi divestasi pengendali dan volatilitas yang tinggi, saham ini jelas menyimpan peluang cuan sekaligus risiko besar.
Disclaimer: Artikel ini hanya bersifat informatif dan bukan rekomendasi jual-beli saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca.












