PROGRES.ID – Ada dua kisah energi yang sedang menjadi perbincangan hangat di Indonesia. Satu datang dari gedung kementerian di Jakarta—tentang proyek besar bioetanol E10 yang digagas pemerintah bersama Pertamina.
Satu lagi lahir dari bengkel kecil di Jonggol—tentang bahan bakar bernama Bobibos, karya anak bangsa yang terbuat dari jerami dan berhasil menembus angka oktan 98,1 di uji Lemigas.
Dua-duanya sama-sama membawa embusan wangi “energi hijau”, tapi sambutannya berbeda.
Satu menuai kritik, satu lagi disanjung.
Ketika Negara Bertaruh pada Bioetanol
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, punya mimpi besar: membuat bensin Indonesia lebih ramah lingkungan lewat program E10, yakni mencampur 10 persen etanol ke dalam bahan bakar minyak (BBM).
Bahan baku etanolnya? Dari singkong dan tebu. Dua tanaman yang disebut akan “menyelamatkan” Indonesia dari impor energi dan emisi karbon.
“Kelihatannya paling lama 2027 sudah bisa jalan,” ujar Bahlil optimistis, Oktober 2025 lalu.
Dua pabrik besar pun disiapkan, salah satunya di Merauke, Papua Selatan—wilayah yang dijanjikan akan menjadi lumbung energi baru.
Namun, di balik rencana megah itu, muncul suara yang tak kalah nyaring: penolakan masyarakat adat Papua.
Hendrikus Franky Woro, warga Suku Awyu, menegaskan bahwa proyek tebu dan etanol di Merauke bukan hanya soal investasi, tapi soal kelangsungan hidup dan warisan leluhur.
“Tidak ada tanah kosong di Papua. Semua tanah punya marga dan sejarah. Kalau hutan rusak, kami kehilangan rumah dan cerita leluhur,” tegasnya.
Para pegiat lingkungan menambahkan, proyek bioetanol di Merauke berpotensi mengorbankan jutaan hektare hutan alami. Alih-alih menurunkan emisi, pembukaan lahan besar-besaran justru bisa mempercepat krisis iklim.
BBM Etanol Pertamina dan “Drama” di SPBU
Pertamina pun ikut terseret dalam sorotan publik setelah sejumlah SPBU swasta seperti Vivo dan APR menolak membeli BBM mereka. Alasannya: hasil uji lab menunjukkan ada kandungan etanol sekitar 3,5 persen.
Padahal, angka itu masih jauh di bawah batas regulasi maksimal (20 persen).
Namun, isu cepat menyebar—dan seolah-olah Pertamina tengah “mencampur” BBM secara sembunyi-sembunyi.
Menanggapi hal itu, Penjabat Sekretaris Perusahaan Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun, menjelaskan bahwa pencampuran etanol adalah praktik umum di dunia internasional, dari Brasil hingga India.
“Dengan mencampurkan etanol, emisi gas buang kendaraan bisa berkurang, kualitas udara lebih baik,” katanya.
Menariknya, pihak industri otomotif justru melihat situasi ini dengan santai. Bob Azam, Wakil Presiden Direktur Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN), menegaskan bahwa kendaraan modern mampu menampung campuran etanol hingga 20 persen.
“Kandungan 3,5 persen itu jauh di bawah batas aman. Jadi, tidak masalah. Banyak negara sudah pakai E10 bahkan E20,” ujarnya.
Artinya, dari sisi teknologi, Indonesia sebenarnya siap. Tapi dari sisi sosial dan persepsi publik, program bioetanol ini menghadapi jalan terjal.
Di Sisi Lain, Bobibos Menyalakan Harapan Baru

Sementara pemerintah sibuk dengan kebijakan miliaran rupiah dan kontroversi lingkungan, di tempat lain—sebuah laboratorium sederhana di Jonggol—sebuah mimpi sederhana menyala.
Mimpi tentang bahan bakar dari jerami.
Namanya Bobibos, singkatan dari “Bahan Bakar Original Buatan Indonesia, Bos!”
Diciptakan oleh M. Ikhlas Thamrin, inovasi ini dikembangkan melalui proses biokimia lima tahap menggunakan mesin buatan sendiri.
Ketika diuji di Lemigas, hasilnya mengejutkan: RON 98,1 — lebih tinggi dari prediksi awal dan bahkan menyaingi BBM premium.
“Kami kira hanya RON 92, ternyata hasil Lemigas menunjukkan 98,1. Artinya, Bobibos bukan cuma setara, tapi melampaui bahan bakar premium,” ujar Ikhlas bangga.
Bobibos terbuat dari jerami sisa panen padi, bahan yang selama ini dianggap limbah.
Kini, limbah itu disulap menjadi energi bersih dengan emisi hampir nol, dan efisiensi pembakaran tinggi.
“Kami ingin membuktikan, bangsa ini bisa mandiri energi. Jerami pun bisa jadi kekuatan,” tambahnya.
Energi Hijau: Dari Sawah, Bukan dari Sawit
Jika bioetanol pemerintah masih berurusan dengan lahan jutaan hektare dan izin industri besar, Bobibos justru tumbuh dari desa dan sawah.
Ia lahir dari logika sederhana: gunakan apa yang kita punya, jangan rusak yang tersisa.
Bahan bakar ini tak perlu membuka hutan baru, tak butuh investasi triliunan rupiah, cukup kemauan untuk memanfaatkan sumber daya yang ada — limbah pertanian.
Bahkan, anggota DPR Komisi VII, Mulyadi, menilai Bobibos sebagai simbol kebangkitan energi nasional.
“Ini bukan sekadar bahan bakar, tapi bukti kemandirian energi Indonesia,” tegasnya.
Dengan efisiensi tinggi, emisi rendah, dan bahan baku lokal, Bobibos berpotensi mengurangi impor BBM sekaligus meningkatkan ekonomi petani.
Pertamina Dikritik, Bobibos Disanjung: Dua Jalan Energi Indonesia
Kisah bioetanol Pertamina dan Bobibos memperlihatkan dua wajah pembangunan energi di negeri ini.
Yang satu megah, berpayung kebijakan dan investasi besar. Yang satu sederhana, lahir dari tangan rakyat dan jerami di ladang.
Keduanya punya tujuan sama — kemandirian energi dan masa depan hijau.
Namun, satu dikritik karena potensi dampak ekologis dan sosial, sementara yang lain disanjung karena kesederhanaan dan kemandiriannya.
Mungkin, jawaban masa depan energi Indonesia justru bukan di pabrik raksasa Merauke, tapi di ladang-ladang kecil tempat petani menanam harapan bersama jerami yang dulu dianggap sampah.
Energi Merah Putih Itu Harus Berakar dari Rakyat
Jika pemerintah sungguh ingin transisi energi berjalan mulus, seharusnya belajar dari Bobibos.
Energi hijau bukan sekadar proyek, tapi gerakan kemandirian.
Bukan soal mengganti bahan bakar, tapi mengubah cara pandang—bahwa inovasi bisa lahir dari mana saja, bahkan dari tumpukan jerami di tepi sawah.
Bobibos mungkin belum masuk stasiun pengisian Pertamina. Tapi semangatnya, sudah lebih dulu mengisi tangki harapan rakyat Indonesia.
***












