PROGRES.ID – Pemerintah Indonesia buka suara terkait laporan yang menyebut adanya pembahasan pemberian akses luas bagi pesawat militer Amerika Serikat untuk melintasi wilayah udara nasional.
Kabar tersebut pertama kali mencuat dari laporan Reuters yang menyebut adanya diskusi intensif antara kedua negara. Dalam laporan itu, Washington dikabarkan mengajukan skema blanket overflight, yakni izin terbang menyeluruh bagi armada militernya di atas wilayah Indonesia. Bahkan, muncul klaim bahwa Presiden Prabowo Subianto telah menyetujui usulan tersebut.
Menanggapi hal itu, Kementerian Pertahanan Republik Indonesia menegaskan bahwa dokumen yang beredar saat ini masih berupa rancangan awal. Pembahasan disebut masih berlangsung di tingkat internal maupun antarinstansi, sehingga belum memiliki kekuatan hukum mengikat.
Kemhan menekankan bahwa setiap bentuk kerja sama pertahanan selalu mengedepankan kepentingan nasional dan prinsip kedaulatan negara. Seluruh proses juga harus sejalan dengan hukum nasional serta ketentuan internasional yang berlaku.
Menurut Kemhan, setiap usulan kerja sama, termasuk terkait akses wilayah udara, wajib melalui tahapan pembahasan yang ketat dan berlapis sebelum dapat diputuskan. Proses tersebut melibatkan berbagai pemangku kepentingan dan mekanisme resmi negara.
Dalam pernyataan resminya, Kemhan juga menegaskan bahwa kendali penuh atas ruang udara Indonesia tetap berada di tangan negara. Otoritas nasional memiliki hak sepenuhnya untuk menyetujui maupun menolak setiap aktivitas penerbangan di wilayah udara Indonesia.
Selain itu, pemerintah menegaskan tidak ada ruang bagi implementasi kebijakan yang bertentangan dengan hukum nasional. Setiap rencana kerja sama harus mengikuti peraturan perundang-undangan, mekanisme kelembagaan, serta keputusan politik yang berlaku di Indonesia.
Isu ini mencuat di tengah agenda pertemuan penting antara pejabat pertahanan kedua negara. Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth dijadwalkan bertemu dengan Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin untuk membahas berbagai peluang kerja sama militer yang lebih luas.
Pembahasan tersebut diperkirakan akan menjadi momentum penting dalam menentukan arah hubungan pertahanan antara Indonesia dan Amerika Serikat ke depan.










